Showing posts with label In Indonesian. Show all posts
Showing posts with label In Indonesian. Show all posts

Mengapa Kerangka Berpikir Kita Berbeda

Sejak lulus kuliah pada Juli 2015, sampai mendapatkan pekerjaan tetap (pekerjaan 8 jam) pada Mei 2016, aku punya banyak sekali waktu luang. Sekitar 6 bulan pertama, aku hanya bekerja di akhir pekan (sebagai pramuwisata) atau menjadi pekerja lepas sebagai penerjemah dan panitia (LO) di beberapa kegiatan. Pada saat itulah aku mulai tertarik untuk membaca hal-hal di luar bidang studiku. Aku mulai membaca buku dan artikel terkait psikologi, filsafat, sejarah, politik, dan kajian humaniora lainnya.

Aku ingin memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang sebelum menentukan sikap. Seperti seorang pecandu, aku mendapatkan kepuasan tersendiri ketika mendapatkan suatu pola setelah menganalisis sesuatu.

Awal 2016 aku tidak sengaja menemukan suatu artikel menarik mengenai Model Bio-Psiko-Sosial Clare W. Graves (dikenal juga sebagai Spiral Dynamics). Hal yang menarik adalah modelnya dapat menjelaskan kompleksitas evolusi yang telah, sedang, dan akan terjadi dalam tataran individu dan masyarakat. Menurutku, model ini menawarkan suatu pola yang cukup efektif dalam melihat hampir semua fenomena yang terjadi.

Menurut Graves, dinamika yang terjadi dalam diri seorang manusia dan masyarakat bukanlah sesuatu yang terjadi secara spontan, namun, lebih seperti transisi gradual yang terarah. Transisi ini, menurutnya, dapat dibagi menjadi 8 tingkat evolusi. Tingkatan evolusi ini terjadi di psikis individu dan masyarakat. Masyarakat merupakan kumpulan dari individu-individu, oleh karena itu, tingkat psikis sebuah masyarakat merupakan gabungan dari psikis para individunya.

Berikut adalah ringkasan dari tiap tingkat-tingkatnya.

1. BEIGE
Ini adalah tingat paling dasar dari psikis seorang individu. Pada tingkatan ini, yang dipikirkan hanyalah bertahan hidup dan mencari makanan. Individu dalam tingkat ini adalah para generasi awal yang menempati posisi terendah dalam teori Darwin.

Beige bersifat Instingtif.

Di era modern, individu yang ada pada tingkat ini adalah para bayi yang belum dapat beinteraksi dengan orang di sekitarnya atau orang-orang yang berada di hierarki terbawah dalam piramida Abraham Maslow. Dalam Hierarchy of Need-nya Maslow, kebutuhan paling manusia dasar haruslah terpenuhi sebelum ia dapat naik ke hierarki yang lebih tinggi. Contohnya, seseorang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, kemungkinan tidak akan mampu untuk bersosialisasi dan berkesenian.

Pada tingkatan ini, masyarakat belum terbentuk.

2. PURPLE 
Individu-individu Beige mulai berkumpul membentuk suatu kelompok Purple karena mereka menyadari bahwa mereka memiliki kesempatan bertahan hidup lebih besar jika bekerja sama.

Purple menjunjung tinggi tradisi, penghormatan atas arwah leluhur dan para tetua, ikatan keluarga, berbagi, ritual, kerja sama.

Purple bersifat Animistik.

Kelompok Purple belum mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Oleh karena itu, mereka memandang dunia sebagai suatu hal yang misterius. Di sinilah muncul kepercayaan Animisme. klenik, perdukunan, dsb. 

Di era modern, kelompok Purple adalah suku-suku pedalaman. Selain itu, banyak pula orang yang masih mengadopsi psikis Purple, diantaranya orang-orang yang masih mempercayai pengobatan dengan darah ayam, sate gagak, dan masih banyak lagi. Selain itu, nilai-nilai Purple mengenai penghormatan pada leluhur dan tetua masih sangat kental di Indonesia dan beberapa negara di Timur.

Pada Purple, tidak ada sifat individualistik karena identitas seseorang merupakan identitas sukunya. Di tataran individu, Purple belum memiliki kepribadian/identitas karena masih sangat tergatung pada orang di sekitarnya. Hal tentang personhood ini kerap didiskusikan dalam filsafat moral.

3. RED
Pada Red, beberapa orang Purple mulai berpikir, “Aku orang yang paling kuat di suku ini. Kenapa aku setara dengan mereka?” 

Hukum rimba berlaku di Red. Beberapa orang mulai memisahkan diri dari sukunya. Dengan kekuatan fisik, mereka mengambil apapun yang mereka inginkan, rumah, ladang, dan para wanita (karena sangat terkait dengan kekuatan fisik, pada awalnya, Red didominasi oleh para pria).

Red bersifat Egosentrik. 

Era Red tidak hanya terjadi dalam konteks kesukuan. Tingkat ini juga mencakup munculnya raja-raja, diktator, dan ketua-ketua gangster. Orang Red tidak peduli dengan yang lain. Jika mereka mengingikan sesuatu, mereka akan mengambilnya dengan cara apapun, seperti merampas, merampok, mencuri, atau membunuh orang yang memiliki benda yang mereka inginkan.

Jika ada yang menentang kekuasaannya, dia tidak segan-segan untuk melenyapkannya. Pada tingkat ini, kekuasaan ditentukan oleh kekuatan fisik, senjata, dan anggota.

Nilai-Nilai Red diantaranya kehormatan, kontrol, dominasi, kesenangan.

Di era modern, Red adalah para pemberontak, gangster, perompak, sindikat, atau kelompok lain yang menggunakan kekerasan fisik untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Selain yang menjurus ke arah kriminal, individu Red juga mencakup anak kecil yang secara alami sangat teridentifikasi dengan dirinya sendiri. Kita semua mengalami tingkatan ini, di mana kita belum memiliki kapasitas untuk berempati.

Menurutku, pada beberapa hal, pemerintahan Suharto terindikasi Red (berpadu dengan Blue), orang yang memiliki ideologi berbeda dengannya akan lenyap dengan segera baik itu kaum intelektual ataupun masyarakat biasa. Pada beberapa literatur, salah satunya karya Seno Ajidarma (aku lupa judulnya 😳) aku pernah membaca bahwa pemerintah mempekerjakan banyak penembak misterius. Pada literatur tersebut, digambarkan suatu keadaan mencekam di mana banyak peluru yang menyasar dan banyak mayat-mayat (kebanyakan preman) bertebaran.

4. BLUE
Masyarakat pada era Red mulai menyadari bahwa mereka harus melakukan sesuatu karena mereka tidak ingin terus-menerus hidup dalam ketakutan dan tekanan. Di tingkat Blue inilah mulai terjadi pemberontakan dan revolusi. Seperti demo besar-besaran untuk menjatuhkan rezim Suharto tahun 1998 atau Revolusi Perancis yang meruntuhkan sistem kerajaan Perancis pada abad ke-18 silam.

Pada Blue, kekuasaan pun kembali jatuh ke tangan masyarakat. Pada tingkat ini, peradaban mulai dimulai. 

Tidak seperti pada Red, di sini hukum-hukum absolut mulai muncul. Pemikir-pemikir filsafat politik seperti John Locke, Rousseau dan nama-nama lain (yang ada di buku PKN 😀) bermunculan di sini. Prinsip-prinsip hukum mulai diformulasikan dan ditegakkan.

Selain hukum kenegaraan, hukum agamapun mulai ditegakkan (secara formal) di sini. Agama-agama besar memiliki lembaga dan berkembang menjadi suatu pedoman hidup yang lebih mengikat. Hal ini terjadi di Blue karena agama, seperti negara, membutuhkan birokrasi dan suatu peraturan yang mengikat. 

Blue dikenal sebagai Absolutis. 

Individu dan masyarakat Blue meyakini bahwa hukum, agama, dan pedoman hidup yang mereka pegang bersifat absolut, universal, dan yang paling benar. Blue berpemikiran dualisme, yang melihat segala sesuatu dalam skala hitam-putih. Hanya ada satu ajaran agama yang benar; hanya ada satu ideologi yang benar; hanya ada satu sistem politik dan ekonomi yang benar, yang merupakan default

Kontrol sosial dalam masyarakat Blue kembali pada kelompok. Individu-individu tidak dapat banyak mengutarakan pendapat maupun kritiknya.

Dalam tataran kenegaraan, menurutku, contoh masyarakat Blue adalah Imperialisme Eropa. Mereka masuk ke masyarakat Purple di pedalaman Afrika, Amerika Latin, Asia, dan tempat lainnya untuk mengajari bahasa, paham-paham, dan agama mereka. Selain itu, ada juga fenomena Arab Spring yang terjadi di beberapa wilayah Red dan Blue di Asia Barat (Timur Tengah) dan Afrika Utara, di mana terjadi pemasukkan sistem demokrasi untuk menggantikan sistem terdahulu.

Selain Imperialisme, dalam tataran ideologi dan kepercayaan, muncul pula para fundamentalis dan teroris yang memiliki satu pemikiran absolut yang paling benar menurut pandangan mereka. Mereka akan berusaha memertahankan status quo yang mereka anggap sudah baik bagi mereka, atau mengubah sebuah status quo tersebut apabila keadaannya tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

Dalam konteks kepercayaan, menurutku, banyak individu/masyarakat dengan berbagai keyakinan (animisme, politeisme, monoteisme, dan keyakinan lainnya) yang memiliki catatan hitamnya tersendiri yang berkenaan dengan pemaksaan pemikiran/keyakinan mereka. 

Di kalangan individu, kebanyakan pada remaja Blue, ada cara/gaya hidup default di mana remaja yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan orang kebanyakan, akan mendapat hinaan dan dianggap aneh. Menurutku, di sinilah sebenarnya akar permasalahan dari bullying. Anak yang paling sering di-bully adalah mereka yang gagal untuk mengikuti tren, cara berbicara, cara berjalan, gaya hidup, orientasi seksual, ataupun yang secara fisik ‘berbeda’ dengan apa yang ‘ditentukan’ sebagai default oleh mayoritas.

5. ORANGE 
Beberapa masyarakat Blue mulai berpikir bahwa negara, masyarakat, dan agama terlalu mengikat kebebasan mereka. Ego mereka mulai mencoba untuk keluar dari absolutisme masyarakat Blue. Pada saat itu, mereka mulai berubah menjadi Orange

Orang-orang Orange mempertanyakan nilai dan norma, atau status quo yang ada dalam masyarakat, negara, dan agama. Di sinilah awal mula munculnya gerakan-gerakan pembebasan terstruktur seperti feminisme yang menuntut penyetaraan gender. Dengan mulai bertanya, “Mengapa nilai dan norma di masyarakat cenderung bias pada gender tertentu? Mengapa para CEO didominasi oleh kaum pria? Selain itu, muncul juga Islam/Kristen Moderat/Liberal. Ada pula gerakan kesetaraan dan kebebasan berekspresi para kaum LGBT. Semuanya dimulai dengan pertanyaan, ‘Mengapa’.

Psikis mereka tidak lagi ingin didoktrin oleh pemikiran-pemikiran yang bersifat mengekang kebebasannya. 

Orange adalah Individualis, berbeda dengan Red yang Egosentrik (walaupun fokusnya kembali ke individu). Di sini, kekuasaan bukan lagi ditentukan oleh kekuatan fisik, namun lebih kepada hal yang bersifat lebih halus seperti kekuasaan dan uang. Siapa yang memiliki uang dapat memegang kekuasaan. Selain itu, penyalahgunaan kekuasaan pada masyarakat Orange sudah tidak lagi bersifat pemusnahan masal para rakyatnya, namun lebih pada kecurangan, manipulasi, dan eksploitasi oleh orang-orang berkerah putih.

Orange adalah Materialistik. 

Tingkat ini adalah musim semi bagi IPTEK. IPTEK dianggap dapat menjelaskan segala hal. Dunia yang tadinya sangat misterius dan tampak luas, sudah dapat ‘ditaklukkan’ oleh IPTEK. Di sini, hal-hal gaib Purple mulai dianggap sebagai lelucon, karena semuanya dianggap dapat dijelaskan secara rasional. Walaupun hukum-hukum kenegaraan dan keagamaan masih ada, namun cenderung sudah bergaya Orange. Orang yang tadinya didikte oleh hukum mulai dapat menggunakan hukum untuk kepentingannya. Pengadilan Negeri/Tinggi mulai banyak menerima laporan tuntutan/gugatan hukum.

Pada Orange, pembangunan besar-besaran, materialisme, dan teknologi menjadi suatu hal yang penting karena para materialistik, individualis dan rasionalis menginginkan efektifitas.
Karena masyarakat Orange sangat individualis, muncul pula gairah baru untuk mengubah dunia menjadi apapun asalkan menguntungkan bagi mereka. Polusi, pencemaran udara, pembuangan limbah, pembakaran hutan, dan bentuk pengrusakan lingkungan dimulai. Hal ini bukan karena jahat, benci atau karakteristik antagonis lain seperti pada cerita fiksi, namun lebih karena ekonomi dan self-interest.

Meritokrasi muncul di sini, suatu pemikiran yang menekankan pada merit (nilai-nilai intelegensi, kemampuan, pengalaman, dan kapasitas seseorang). Orang yang memiliki merit pantas untuk sukses dan memegang posisi penting. Pemikiran Napoleon Bonaparte (1800-an) ini adalah salah satu yang paling penting dalam peradaban manusia. Meritokrasi muncul untuk menggantikan Aristokrasi di Perancis. Sehingga yang pantas memimpin bukanlah para aristokrat, melainkan siapapun yang memiliki merit. Sayangnya, meritokrasi juga berarti bahwa orang yang gagal adalah orang yang ‘pantas’ untuk gagal, sehingga individualisme semakin kental, dan orang mulai bangga dengan apa yang ‘pantas’ mereka capai, dan tidak perduli dengan orang-orang yang ‘gagal’ tersebut.

Pada tingkat ini, IPTEK bukan lagi sebuah perspektif untuk menelaah suatu realitas, melainkan sudah menjadi sebuah realitas itu sendiri. 

Di Amerika Serikat, fenomena ini dapat dikaitkan dengan American Dream, sebuah pandangan hidup di mana setiap warga negara memiliki peluang yang sama untuk menaikkan status sosial keluarganya demi mencapai sukses asalkan mereka rela bekerja keras. Kesuksesan digambarkan dengan kebebasan finansial dan kepemilikan aset. Kebahagiaan disimbolkan dengan rumah, mobil, makanan, dan materi lainnya. Pola hidup konsumtif dan produktif inilah yang menggerakan roda-roda Kapitalisme.

Agama kerap digunakan oleh para kapitalis untuk mempertahankan status quo. Diantaranya Calvinisme, suatu denominasi Kristen yang dikembangkan oleh John Calvin. Calvin menggunakan ayat-ayat dalam Injil yang berhubungan dengan bekerja keras. Setelah itu, ia menanamkan nilai dalam Kristen pentingnya menabung dan berinvestasi. Ia juga menambahkan orang yang bekerja keras lebih mulia di mata Tuhan daripada para pastur. Oleh karena itu, para pekerja akan terus bekerja tanpa lelah dan takkan pernah mengeluh. Hal inilah yang membuat Komunisme (Karl Marx) dan filsafat lainnya (Nietzsche) menganggap agama adalah candu, sebagai alat yang membuat kaum proletar menjadi pasif, dan mencegah revolusi. Berbeda dengan Marx, Max Weber dalam “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” (aku baru membaca review dan analisis bukunya 😳) berpendapat bahwa Calvinism bukanlah alat untuk mempertahankan Kapitalisme, namun hal yang memulai Kapitalisme.

Sedangkan di Islam, saya menyoroti kata-kata “Syukur, Jangan mengeluh, Bekerja keras, Rezeki sudah ada yang mengatur, Hormatilah orang yang mempekerjakanmu”. Namun, mungkin saja kata-kata tersebut (dan kata-kata John Calvin) bertujuan baik, yaitu untuk menyemangati para masyarakat, khususnya para pekerja. Di sini, konteks sangatlah penting, dan kita tidak memiliki akses untuk memahami konteksnya secara menyeluruh. 

Tidak ada yang tahu pasti. 

6. GREEN
Tingkat Green dimulai dengan individu yang sadar bahwa uang, materi, dan teknologi yang canggih bukanlah sumber dari kebahagiaan. Selain itu, orang-orang mulai melihat dampak buruk dari pola hidup masyarakat Orange dan mereka melihat kerusakan alam dan penindasan terhadap kaum proletariat di mana-mana.

Tidak seperti Blue yang absolutis, Green bersifat relativistik. Mereka berpikir bahwa segala sesuatu (nilai-nilai, kebenaran, kebaikan, kecantikan) hanya berlaku pada kelompok/budaya tertentu. Mereka menghargai perbedaan, memiliki empati yang sangat tinggi.

Mereka adalah orang yang mencintai dan peduli tidak hanya pada manusia lain, namun hewan dan kelestarian alam karena mereka ingin anak-cucu mereka dapat melihat keindahan alam dan keragaman hayatinya.

Orang-orang ini memiliki rasa empati yang sangat dalam. Kepada Orange, mereka berusaha melindungi hak-hak para buruh agar tidak dieksploitasi oleh kelas pengusaha dengan membentuk serikat pekerja. Mereka membentuk kelompok-kelompok yang peduli dan mendukung orang yang memiliki permasalahan fisik dan mental (Support Group). Selain itu, mereka juga membentuk banyak organisasi yang peduli terhadap kelestarian hutan, hewan yang hampir punah, serta budaya-budaya Purple yang mereka anggap sebagai khazanah yang dapat melukiskan indahnya keberagaman.

Di tingkat ini, kontrol kembali beralih ke masyarakat dengan asas, ‘demi kepentingan umum’.

Organisasi-organisasi Green (biasanya NGO) sudah bermunculan di masyarakat modern. 

Pada era Green juga terdapat korporasi dan perusahaan, namun pandangan mereka tidak hanya kepada profit dan eksploitasi, melainkan juga bagi keberlangsungan lingkungan dan kesejahteraan sosial (mungkin karena ini kata-kata "Sustainable/Sustainability" mulai sering ditemukan di Visi/Misi perusahaan atau kegiatan CSR mereka).

Pada tataran individu, orang Green mungkin adalah orang-orang yang antikemapanan dan yang memiliki empati tinggi.

7. YELLOW
Yellow bersifat Sistemik. Mereka menjunjung tinggi fleksibilitas, otonomi, rasa ingin tahu. Mereka menerima paradoks dan ketidakpastian. Mereka tidak termotivasi oleh penghargaan dan hukuman. 

Orang-orang pada tingkat Beige sampai Green tidak menyadari bahwa mereka ada pada tingkat tersebut. Hanya pada tingkat Yellow lah orang mulai menyadari semua ini karena mereka telah melewati semua tingkatan evolusi psikis ini. Mereka memahami apa yang dipikirkan oleh orang Purple dan Red; mereka paham mengenai konflik yang terjadi antara masyarakat Blue dan Orange seperti konflik global yang terjadi saat ini. 

Yellow menyadari bahwa setiap tingkat memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Mereka melihat sesuatu sebagai suatu sistem yang kompleks, sehingga mereka tidak akan gegabah dalam menentukan mana yang benar dan salah atau yang baik dan yang buruk.

Orang-orang bertransformasi ke Yellow ketika melihat bahwa Green terlalu idealis. Mereka berpikir bahwa kepedulian saja tidak akan mengubah dunia. Kita perlu memahami apa yang telah dan sedang terjadi dengan cara melihat segala sesuatu secara menyeluruh, melalui perspektif pihak-pihak yang berbeda.

Yellow tidak akan mudah tersinggung karena mereka memahami fluiditas emosi, dan mereka juga tidak terlalu arogan sebagaimana orang-orang Orange karena mereka tahu bahwa ada tingkatan lagi di atas mereka.

Yellow bersifat individualistis, sehingga mereka terlalu sering berada dalam kepala mereka sendiri. Mereka terlalu sibuk membangun sebuah model dan memahami berbagai cara untuk memahami realitas. Oleh karena itu, mereka terus berefleksi agar dapat bertransformasi ke tingkat selanjutnya.

Walaupun ada beberapa persen (>5%) individu yang mulai bertransformasi ke tingkat ini (Barrack Obama pernah disebut masuk ke dalam tahap ini), belum ada masyarakat yang sampai pada tingkat ini.

8. TURQUOISE 
Turquoise bersifat Holistis. Ini adalah tingkat tertinggi dalam evolusi psikis manusia. Karena sangat sedikit atau bahkan belum ada individu dan masyarakat yang berada pada tingkat ini, Graves tidak memberi banyak catatan mengenai Turquoise.

Menurutku, para nabi merupakan beberapa individu yang telah mencapai tingkat ini. Ada sumber lain yang menyatakan bahwa Gandhi adalah seorang Turquoise.

***

Perlu dicatat bahwa:
1. Setiap individu atau masyarakat tidak berada hanya pada satu tingkat, melainkan berada pada beberapa tingkat berbeda, contohnya, Donald Trump: (secara kasar, dan agak asal-asalan) sebagian besar Blue (Meyakini supremasi ras dan agama tertentu) dan Orange (Kapitalis dan pebismis yang orientasinya pada profit), namun ada juga sebagian kecil Red (Impulsif) dan Green (aku tidak terlalu yakin dengan Green). 

2. Setiap tingkat memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Yang membedakan hanyalah kompleksitas. Tidak berarti yang satu lebih baik/pintar/superior daripada yang lain. Namun, individu pada tingkat yang lebih tinggi memiliki lebih banyak kerangka berpikir untuk dipilih dalam memandang suatu permasalahan.

3. Warna pada model ini dibedakan menjadi 2: warna hangat; Red, Orange dan Yellow (“ekspresi diri”) dan warna dingin; Purple, Blue, dan Green (“pengorbanan diri”). Dengan kata lain, perbedaan fokus adalah antara ‘Aku’ dan ‘Kita’.

4. Transformasi dari satu tingkat ke tingkat selanjutnya berlangsung apabila seseorang telah menerima dan memahami konsep, serta kelebihan dan kekurangan tingkatnya berada. Bertransformasi tidak berarti meninggalkan tingkat sebelumnya, namun merekonsiliasi dan mengintegrasikannya.

5. Transformasi harus melalui setiap tingkat, tidak dapat meloncati tingkat tertentu.

6. Ketika kita mencoba menunjuk di mana tingkat kita, kecenderungannya adalah kita menunjuk 2 tingkat di atas tingkat kita sebenarnya (Jika menunjuk Yellow, kemungkinan kita Orange).

***

Menurutku, apa yang sedang terjadi di Indonesia adalah adalah pembagian kubu antar Blue dan antara Blue dengan Orange.

Antar kubu Blue, yang terjadi adalah perang antara orang atau kelompok orang yang yakin bahwa model/kerangka berpikirnya adalah yang bersifat absolut, objektif, universal, dan paling benar.

Sedangkan antar Blue dan Orange, menurutku yang sedang terjadi di banyak negara, selain di Indonesia. Blue menganggap bahwa Orange keblinger, hedonis, liberal, dan hanya mencari (kesenangan) dunia, dan merupakan ancaman yang akan menggerus kearifan lokal, sistem, dan generasi Blue selanjutnya. Orange menganggap Blue antiperubahan, kolot, dogmatis, dan tidak rasional.

Yang kulihat sekarang, perang tersebut sudah menjadi perang ego. Orang-orang membaca/mendengar hanya untuk merespon dan menyerang balik, bukannya untuk belajar dan memahami.

Padahal, menurutku banyak kelebihan masing-masing kubu yang dapat direkonsiliasi untuk menutupi kelemahan-kelemahannya. Aku ingat kata-kata dari Paulo Coelho, “bahkan jam rusak pun benar dua kali dalam satu hari”.

Kuharap, konflik dan perpecahan di negara ini segera berakhir.

______________________________________________________
____________________________
______________________________________________________



Tentang Kematian


Kematian

Secara umum, kematian merupakan momok yang ditakuti oleh semua orang. Namun, sampai tingkat tertentu, kita tidak percaya bahwa kita akan mati. Bila iya, kita akan ketakutan setiap hari. 

Mungkin ini memang suatu upaya yang dilakukan oleh sel-sel dalam tubuh kita agar kita dapat berfungsi secara normal. Atau mungkin, sel-sel kita memang takkan pernah mati, hanya berubah.

Kita Semua Mati Sendirian

Menurut Prof. Shelly Kagan dalam sebuah kuliah terbuka tentang filsafat di Universitas Yale, kematian itu menakutkan karena kita mati sendirian, dalam sepi. 

Sepanjang hidup kita, kita telah hidup berdampingan dengan orang lain. Pasti sangat menakutkan bila akhirnya kita mati sendirian.

Walaupun kebanyakan orang mati dihadapan kerabat/keluarganya, tetap saja kita sendiri yang mati.

Walaupun kita mati di arena perang bersamaan dengan orang lain, tetap saja proses kematian itu akan kita hadapi masing-masing karena kematian tak dapat diberikan pada orang lain.

Walaupun pada abad pertengahan, tempat seseorang di guillotine dapat digantikan oleh orang lain, tetap saja, takkan ada yang bisa mengambil kematian kita karena setiap orang memiliki kematiannya sendiri.

Jika seseorang menempati tempat kita saat makan siang, dia menyantap makan siangnya untuknya, bukan makan siang kita untuk kita.

Kita akan mati sendirian.

Katanya, ketika kita mati, kita akan merasakan kesendirian, keterkucilan, dan ‘terpisah’ dari orang di sekitar kita. Namun, tidak semua orang akan merasakan hal seperti ini, contohnya adalah orang yang meninggal ketika sedang tidur atau yang malah mengundang orang-orang terdekatnya untuk mengucapkan kata-kata terakhirnya.

Kita Mengharapkan Eksistensi Jiwa

Sebegitu takutnya kita akan kematian sehingga kita sangat berharap bahwa kita bukan hanya raga yang memiliki fungsi-fungsi hebat, namun kita juga punya jiwa. Kita berharap bahwa setelah kematian, jiwa kita akan menuju kehidupan yang abadi.

Jika tidak ada kehidupan yang abadi untuk jiwa kita, berarti kematian adalah akhir dari semua. Berarti kehidupan hanyalah serangkaian hal-hal tak bermakna.

Sangat depresif!

Kematian Tidaklah Buruk Bagi Yang Meninggal, tapi Buruk Bagi Yang Ditinggalkan

Pada situasi tertentu, mungkin kita pernah berpikir bahwa tidak apa-apa jika kita harus mati, yang kita takutkan adalah apa yang akan dilakukan keluarga/kerabat kita jika kita mati.

Ada dua skenario:
  1. Saudara kita akan pergi untuk melakukan eksplorasi galaksi. Mungkin kita takkan pernah bisa bertemu/berkomunikasi lagi.
  2. Saudara kita akan pergi untuk melakukan eksplorasi galaksi. Roketnya meledak sesaat setelah diluncurkan.

Tentu saja skenario kedua lebih menyedihkan. Kesimpulannya, bukanlah perpisahan yang menyedihkan, melainkan perasaan orang yang ditinggalkan ketika mereka meratapi orang yang meninggal.

Kematian Merenggut Keindahan Hidup

Kematian itu buruk karena dia merampok sebuah keindahan hidup yang mungkin akan kita alami.

Kapanpun kita mati, kita akan memandangnya sebagai sesuatu yang buruk. Jika kita mati pada usia 20, kita mati terlalu muda. Jika kita mati pada usia 50, kita berharap punya waktu 10 tahun lagi. Jika kita mati di usia 90 tahun, tetap saja, kita akan merasa kurang.

Oleh karena itu, keabadianlah jalan satu-satunya.

Kita Tidak Benar-Benar Ingin Hidup Abadi

Jika kita diberi kebebasan untuk memilih jatah usia, mungkin kita akan memilih ‘tak terbatas’, tapi sebenarnya keabadian tidaklah seindah yang kita bayangkan. Bayangkan saja kita semakin tua, semakin ringkih, dan semakin pikun; organ-organ di tubuh kita tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya; daya indera kita semakin berkurang, namun kita tak akan pernah mati. 

Menyeramkan, bukan?

Pada saat itulah, mungkin, kematian hadir sebagai anugerah yang membebaskan kita dari jeratan penderitaan abadi seperti itu.

Sejatinya, kita ingin hidup abadi tanpa mengalami penuaan. Bagai para vampire dalam Twilight Series. Mungkin, karena itulah konsep ‘surga’ menjadi secercah cahaya di ujung jalan. Cahaya yang dapat menerangi semua angan-angan dan pertanyaan terbesar umat manusia.

Namun, tetap saja tidak ada kehidupan abadi yang akan selamanya bahagia. Akan ada saatnya kita mencari suatu akhir di kehidupan yang tanpa akhir itu, bahkan di surga, mungkin. 

Aku pernah berpikir bila aku berada di surga, bernyanyi selamanya, tidur bersama 72 bidadari selamanya, duduk-duduk sambil membaca di taman Firdaus selamanya, makan makanan dan minum minuman favoritku selamanya, memainkan game favoritku selamanya, berjalan-jalan di hamparan taman bunga selamanya, mendengar deburan ombak dan retihan api unggun selamanya, tidur-tiduran di bawah bintang-bintang selamanya… selamanya. 

Selamanya! 

Menurutku, setelah 100 atau 1000 tahun, aku akan mulai bosan, dan berharap agar aku lenyap, seperti sebelum aku dilahirkan.

***

Walaupun aku tidak ingin orang-orang terdekatku mati, bagiku, kematian jika dilihat dari perspektif tertentu, tampak indah. Bagiku, kematian adalah sebuah sensasi yang menggairahkan. 

Bayangkan, kita bisa mati kapanpun dan di manapun!

Kematian itu menggairahkan! Mungkin itulah mengapa orang rela lompat dari pesawat hanya dengan beberpa helai kain, memacu kendaraannya untuk kesenangan, dan melakukan hal-hal lain yang menyimpan risiko kematian tinggi.

Dalam ilmu ekonomi, kita tahu bahwa nilai suatu komoditas akan melonjak apabila komoditas itu langka, singkat atau mudah rusak. Sama halnya dengan kehidupan. Hal-hal itulah yang membuat kehidupan menjadi sesuatu yang berharga.

Aku bersyukur atas apa yang sudah, sedang, dan akan aku alami. Kapanpun akhirku, aku akan merasa cukup.


______________________________
________________

______________________________




Tentang Bunuh Diri

Kapankah saat yang tepat untuk melakukan bunuh diri?


Beberapa bulan lalu aku mengikuti sebuah kuliah Filsafat di Yale University Open Course. Terdapat sekitar 20 materi kuliah yang setiap sesinya berlangsung selama kurang lebih 50 menit. Kala itu, aku tak punya banyak waktu untuk mempelajari semuanya, sehingga akupun hanya memilih beberapa sesi yang menarik perhatianku saja: Bunuh Diri bagian I dan II.

Menurut Prof. Shelly Kagan, Bunuh Diri selalu diasosiasikan dengan suatu irasionalitas dan/atau imoralitas. Malah, ketika tindakan bunuh diri itu rasional, perbuatan tersebut tetap saja kerap dianggap imoral.
Contohnya, pasien yang mengalami koma selama bertahun-tahun atau yang sangat tersiksa oleh penyakitnya (yang bahkan belum ada obatnya), kerabatnya pasti akan menginginkan pasien tersebut terus hidup.

Lantas, bagaimanakah perbuatan bunuh diri itu  jika dilihat secara moral dan rasional?

Moralitas

Dari perspektif moralitas, tentu saja, tindakan bunuh diri itu dianggap buruk karena tindakan tersebut dinilai melanggar kodrat/kehendak Tuhan. Kehidupan dianggap sebagai sebuah kado yang diberikan untuk kita. Namun, bagaimana jika kita tidak menyukai kado tersebut?

Bagaimana jika orang memberi makanan yang tak kita sukai? Apakah harus kita habiskan?
Entahlah.

Kemudian, tindakan bunuh diri kerap diasosiasikan dengan tindakan yang egois karena tindakan tersebut hampir selalu melukai keluarga, kerabat dan orang yang menyayangi kita. Si pelaku bunuh diri selalu digambarkan sebagai orang yang gegabah/tidak peduli terhadap perasaan orang lain.
Orang bilang, “Pembunuhan itu hal yang buruk, maka membunuh diri sendiri juga buruk.”

Namun, bagaimana jika tindakan bunuh diri itu kita lakukan untuk mengakhiri penderitaan? Bagaimana jika kita bunuh diri untuk menghindari kehidupan yang lebih buruk? 

Aku sering mendengar bahwa 'persetujuan' dapat memutarbalikan moralitas. Pembunuhan atas bandar narkoba yang diberi persetujuan oleh negara dapat diterima oleh masyarakat. Pembunuhan orang-orang komunis beberapa dekade silam pun dapat dianggap wajar dengan persetujuan dari pemerintah pada saat itu. Di arena tinju, orang dapat saling memukul karena ada persetujuan, tidak seperti di jalan raya/sekolah/kantor.

Namun, bunuh diri yang notabenenya mendapat 'persetujuan' dari si pelaku, perlu dipertimbangkan pula usia, kesehatan psikis, rasionalitas, dan pengalaman orang tersebut. Selain itu, konsep 'persetujuan' dalam konteks ini juga dapat diperdebatkan, bayangkan saja jika tiba-tiba ada orang yang memberi kita izin untuk membunuhnya.

Sejatinya, membahas persoalan tindakan bunuh diri melalui perspektif moralitas memang tak akan pernah habis.

Rasionalitas

Ketika mempertanyakan rasionalitas dari perbuatan bunuh diri, kita karus mempertimbangkan dalam keadaan bagaimanakah bunuh diri itu tepat dan dapat diterima akal sehat. 

Namun, permasalahannya adalah apakah kita bisa mempercayai pertimbangan kita?

Salah satu cara mempertimbangkannya adalah dengan cara memeriksa keadaan kita sekarang dan keadaan yang mungkin terjadi kemudian; apakah lebih baik atau malah lebih buruk. Jika lebih buruk, lebih baik mati saja!

Dalam kelas filsafat ini, kematian dianggap sebagai suatu ketiadaan. Sebuah bilangan nol. Oleh karena itu, jika setelah mempertimbangkan, kehidupan kita akan semakin memburuk, kita lebih baik mati, karena nol lebih baik daripada negatif.

Berikut adalah diagram kapan waktu yang tepat untuk melakukan bunuh diri.


Gambar 1

Keterangan:

  1. Garis horizontal menunjukan usia seseorang yang bergerak dari kiri ke kanan; dari lahir hingga meninggal.
  2. Garis vertikal di sebelah kanan menunjukan batas usia seseorang. Pada contoh di atas, usia orang tersebut adalah 80 tahun ketika ia mengalami kematian normal (tidak karena bunuh diri/dibunuh).
  3. Garis vertikal di sebelah kiri menunjukan kualitas hidup seseorang; semakin tinggi, semakin bahagia orang tersebut.

Pada contoh di atas, terdapat dua orang yang memiliki kehidupan yang berbeda. Orang pertama (garis atas) memulai hidup dengan kualitas yang sangat baik, namun seiring berjalannya waktu, kualitas kehidupannya mengalami penurunan. Namun, jika ia bunuh diri pada titik A, ia akan mengalami kerugian karena sisa kehidupannya masih relatif baik (berada di atas garis tengah).

Berbeda dengan orang kedua, pada contoh ini, tindakan bunuh diri merupakan suatu hal yang rasional karena di penghujung hidupnya, ia hanya akan mengalami kemerosotan kualitas hidup. Lantas, kapan waktu yang tepat untuk bunuh diri? Pada titik B, tindakan bunuh diri dianggap tdak tepat, karena dia akan kehilangan beberapa tahun masa hidupnya yang masih berada di atas garis horizontal, walaupun semakin memburuk. 

Pada titik D, tindakan bunuh diri sudah terlambat. Pada titik C lah waktu yang paling tepat, karena, secara umum, ketiadaan dianggap lebih baik daripada kehidupan yang berada di bawah garis horizontal.


Gambar 2
Pada gambar kedua, situasinya sedikit berbeda. Orang ini terlahir dalam situasi yang relatif buruk. Kemudian, kehidupannya membaik seiring berjalannya waktu dan walaupun kehidupannya mengalami keadaan sulit, di  akhir hayatnya, dia akan hidup bahagia.

Ketika melewati titik Y, kehidupan orang tersebut akan semakin merosot sampai berada di titik nadir. Namun, jika ia memilih melakukan bunuh diri, dia akan melewatkan masa-masa indah di masa akhir kehidupannya.

Seperti inilah kehidupan kita. Hanya saja, kita tidak mengetahui diagram kehidupan kita. Ketika hidup kita menanjak, kita lupa bahwa kita mungkin akan jatuh; dan ketika kita jatuh, kita lupa bahwa mungkin nanti kita akan naik.

Menurutku, bunuh diri hampir selalu bukanlah hal yang tepat. Karena 1) kita tidak bisa memprediksi garis kehidupan kita; 2) seterjal apapun jalan hidup kita sekarang, selalu ada kemungkinan bahwa suatu saat (sebelum kematian normal) garis kehidupan kita akan menanjak; dan 3) kita nyaris tak akan bisa mempertimbangkan hal ini karena faktor psikis, ketenangan, pengalaman dan usia kita; sehingga, sangat sulit untuk mendapatkan sebuah gambaran yang jernih tentang jalan keluar apa yang paling rasional. Dalam hal seperti ini, bahkan diri sendiripun tidak bisa kita percayai.

Aku menyayangkan banyaknya angka bunuh diri orang-orang yang berumur relatif muda. 

Mungkin saja kehidupan mereka hanya sedang mengalami suatu penurunan kecil.

Mungkin juga tidak.

Tak ada yang tahu.




___________________________
_________________
___________________________



Peka

Peka

Dalam satu hari, aku dapat melihat banyak hal. Ketika berkendara, aku melihat sekumpulan orang yang membangun gubuk, kemungkinan tidur dan makan juga, di antara timbunan sampah. Kemudian, di rumah, aku melihat pemberitaan di televisi mengenai kasus kekerasan seksual—ditambah pembunuhan—pada anak dan perempuan yang sudah seperti jamur di musim penghujan. Akupun bertanya-tanya, “Kok bisa gitu sih?

Kemudian, aku ingat cerita tentang alegori katak dalam air panas. Intinya kira-kira seperti ini, “Jika kita memasukan seekor katak ke dalam panci berisi air yang sudah mendidih, pasti dia akan langsung melompat ke luar; sedangkan jika kita memasukannya ke dalam air dingin yang sedikit demi sedikit kita panaskan, katak itu akan beradaptasi sampai airnya mendidih dan ia pun mati”.

Mitos ataupun fakta, menurutku yang penting adalah nilai yang bisa dipetik dari alegori tersebut. Salah satu mekanisme primordial pertahanan hidup sel adalah dengan cara beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan. Inilah salah satu alasan mengapa ada orang yang dapat membangun gubuk di antara pegunungan sampah. Aku yakin tidak ada orang yang dapat bersantap dan terlelap di sana dengan seketika. Awalnya, mungkin mereka akan merasa mual, lama-kelamaan, karena terbiasa, merekapun sudah tidak peka lagi terhadap bebauan yang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Mungkin bila aku ada di posisi mereka, akupun akan mampu beradaptasi.

Film biru pun seperti itu, seorang anak lelaki berusia 13 tahun yang baru pertama kali menonton film itu kemungkinan besar akan merasa jijik. Beberapa saat kemudian, dia mulai terbiasa dan bosan dengan adegan ‘biasa’; akhirnya, batas toleransinya akan meningkat, dia tidak akan merasa puas jika hanya menonton adegan yang ‘biasa’. Saat itu dia akan mencari kategori film yang ‘luar biasa’ dan akhirnya tidak akan merasa puas apabila hanya menonton.

Rokok juga seperti itu, ketika pertama kali merokok, teman SMA-ku pingsan dan muntah-muntah setelah menghisap sebungkus rokok dalam satu hari. Hal itu terjadi karena tubuhnya masih peka terhadap racun rokok. Semakin lama, bagaikan katak yang sudah terbiasa, dia pun dapat menghabiskan satu hingga dua bungkus rokok dalam satu hari dan merasa sangat bahagia. Si Katak mulai merasa nyaman dalam air yang membunuhnya secara perlahan.

Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) pun kurasa seperti itu. Katakanlah pihak pria yang melakukan KDRT. Ketika dalam masa pendekatan, bila Sang Pria langsung memaki dan memukul pasangannya, hampir pasti Sang Wanita akan langsung meninggalkannya. Namun, pada kebanyakan kasus, hal ini terjadi secara bertahap. Sesaat sebelum menikah atau pada usia pernikahan yang masih muda, Sang Wanita mungkin merasa bahwa pasangannya agak kasar, namun—dengan kepercayaan bahwa dia akan berubah—dia tetap bertahan. Akhirnya, setelah sekian lama, agresifitas Sang Pria akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya batas toleransi Sang Wanita. Hingga Sang Wanita pun akhirnya menyadari bahwa batas ketahanan tubuhnya tidak lebih tinggi daripada batas toleransi psikisnya.

Terakhir, apakah Anakin Skywalker semerta-merta berubah menjadi Darth Vader? Apakah dia langsung bergabung dengan ‘Kegelapan’? Ataukah perubahannya terjadi secara bertahap, di mana kepekaan semakin berkurang dalam setiap kenaikan tahap-tahapnya.


**************


Berbeda dengan Sang Katak, aku terlahir dalam panci yang berisi air. Aku beranjak dewasa dalam panci itu. Mungkin airnya makin panas, mungkin makin dingin. Aku tidak tahu. Satu Celsius takkan terasa. Mungkin aku akan tahu di akhir nanti, tapi mungkin sudah terlambat.


_____________________________________
_______________________
_____________________________________





Skeptisisme dan Agnostisisme

Skeptisisme 

Menurut KBBI, Skeptis berarti kurang percaya atau ragu-ragu, sedangkan skeptisisme, seperti kata-kata yang berakhiran –isme lainnya, adalah aliran atau paham yang selalu memandang sesuatu tidak pasti. Walaupun baru santer terdengar pada sekitar awal abad ke-17, sebenarnya, konsep dasarnya sudah ada sejak zaman Yunani kuno ketika Socrates menyatakan bahwa dia meragukan dirinya sendiri dan apa yang dia lihat. Konsep dan istilah ini dipopulerkan oleh Rene Descartes.

Descartes menyadari bahwa sejak dia kecil, banyak kepercayaannya yang ternyata salah. Dia mulai berpikir bagaimana jika apa yang dia percayai saat ini juga ternyata salah—dan dia belum menyadarinya. Sejak saat itu, dia ingin memastikan bahwa dia tidak berpijak pada sesuatu yang salah lagi, alhasil, dia meragukan semua kepercayaannya—sampai dia bisa yakin mengenai kebenarannya.

Analoginya adalah dia sedang memegang sekeranjang buah apel. Dalam keranjang itu, mungkin ada beberapa buah apel busuk yang bisa ‘menular’ ke apel lainnya, dia pun mulai memeriksa apelnya. Namun, mungkin juga apel yang berada di paling bawah keranjangnya juga busuk. Oleh karena itu, dia mengeluarkan semua apel dan memeriksa satu-satu sebelum memasukan kembali ke keranjangnya.

Awalnya, Descartes menginspeksi ulang semua hal sebelum masuk ke sistem kepercayaannya menggunakan metode empiris—sistem indra. Dia menyadari bahwa sangat mungkin ada kecacatan dalam metode empirisnya karena dia tidak selalu bisa memercayai kelima indranya tersebut. Banyak sekali kondisi eksternal dan internal yang dapat mengganggu dan memengaruhi indranya dalam memersepsikan rangsangan.

Keraguan Descartes berlanjut menjadi lebih radikal. Dia berpikir bagaimana jika semua yang dia percayai selama ini, semua persepsi yang dia miliki, semua pengalaman yang dia alami, dan semua pikirannya telah ditanam oleh sang “evil genius” yang menciptakan sebuah dunia khayalan yang takkan pernah terdeteksi kebenarannya. 

Saat itu, dia meragukan semua hal, termasuk diri dan persepsinya sendiri. Namun, ada satu hal yang tidak dapat dia ragukan: keadaan bahwa dia sedang meragukan sesuatu. Pada momen itulah, Descartes menyadari bahwa ketika dia meragukan sesuatu, setidaknya dia merupakan sebuah entitas yang memiliki alat untuk berpikir.

Descartes mendeklarasikan pemikirannya tadi sebagai Cogito Ergo Sum (I think, therefore I am).

Tanggapan terhadap Skeptisisme

Seorang yang skeptis bukanlah orang yang meragukan segala sesuatu dan hanya diam hingga akhir hayatnya; skeptis bukan pula sebuah keputusan final bahwa suatu hal benar atau salah dan bernilai baik atau buruk. Seorang yang skeptis sangat menjunjung tinggi kebenaran, sehingga, dia selalu mempertimbangkan segala sesuatu menggunakan pelbagai kerangka berpikir.
 
Dalam dunia filsafat, ada dua kerangka berpikir untuk memahami hakikat kebenaran: empirisisme dan rasionalisme.

Menurut KBBI, empirisisme merupakan “aliran ilmu pengetahuan dan filsafat berdasarkan metode empiris; dan teori yang menyatakan bahwa semua pengetahuan didapat dari pengalaman”; sedangkan rasionalisme, merupakan “teori yang menganggap bahwa pikiran dan akal merupakan satu-satunya dasar untuk memecahkan permasalahan mengenai kebenaran yang lepas dari jangkauan indra; paham yang lebih mengutamakan kemampuan akal daripada emosi atau batin.”

Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, Descartes lebih memilih cara berpikir rasionalisme karena dia menyadari adanya keterbatasan-keterbatasan indra manusia. Namun, rasionalisme dinilai berpijak pada sesuatu yang bersifat abstrak dan metafisik, dan hal inilah yang kerap ditolak oleh orang-orang empiris-materialis yang hanya menerima ‘realitas’ sebagai sesuatu yang bisa dipersepsikan oleh indra.

Sekarang, pengertian keduanya (terutama rasionalisme) sudah semakin luas dan semakin banyak embel-embel yang ditambahkan sebelum dan sesudah istilah tersebut.

Walaupun kedua kerangka berpikir ini ada di dalam diri manusia yang seharusnya dapat memanfaatkan keduanya, perdebatan empirisisme dan rasionalisme kerap terjadi antara orang yang berpandangan dualisme, dan berpikir bahwa jika yang satu benar, maka yang satunya (harus) salah.

Bacaan lebih lanjut: Stanford Encyclopedia of Philosophy: Descartes’ Epistemology

Agnostisisme

Berdasarkan KBBI, agnostisisme merupakan “paham yang mempertahankan pendirian bahwa manusia itu kekurangan informasi atau kemampuan rasional untuk membuat pertimbangan tentang kebenaran tertinggi.” Dalam The Sage’s English Dictionary and Thesaurus, agnostisisme dimaknai sebagai penyangkalan atau skeptisisme terhadap eksistensi Tuhan.

Kaum agnostik yang ada di benakku adalah kaum esoteris yang menunda keputusan mereka; para pemikir yang masih menimbang-nimbang perspektif yang satu dengan yang lainnya; yang masih mencoba memahami metafisika dan narasi agung dari hakikat semesta. 

Sayangnya, wajah agnostisisme yang aku lihat sekarang bukanlah merupakan sebuah paham yang skeptik terhadap eksistensi Tuhan, bukan pula paham dimana orang-orangnya terus belajar, mengkaji ilmu, dan mencari tahu kebenaran absolut. Kaum agnostik yang paling sering ‘muncul’ dan ‘berkoar-koar’ di media sosial dan forum-forum kontemporer adalah orang yang sangat sangat sangat yakin bahwa Tuhan itu tidak ada (ateis) dan yang malah menentang keberadaan Tuhan (anti-teis). 

Selain itu, orang-orang agnostik ‘kekinian’ ini adalah orang yang sangat bersifat anti terhadap agama—terutama Islam. Seringkali aku mendapati akun-akun resmi atau pribadi yang ‘asal comot’ berita manapun—baik itu yang jelas sumbernya maupun hoax—mengenai segala sesuatu yang menggambarkan beberapa organisasi masyarakat yang melakukan pembubaran atas acara-acara perkumpulan Islam Syiah, komunitas LGBT, Ahmadiyah, dll.
 
Aku tidak tau secara pasti seperti apa acaranya dan bagaimana proses pembubarannya. Di sini, akupun tidak ingin menolak dan mengindahkan acara pembubaran tersebut. Namun, aku, selaku orang yang sudah belajar Analisis Wacana, cukup memahami bagaimana subjektifnya sebuah pemberitaan itu. Se-objektif apapun sebuah pemberitaan, kita tidak bisa terlepas dari bias. Bahkan, keputusan media atau perorangan untuk menampilan sebuah tulisan A daripada tulisan B pun dapat menunjukan bias, preferensi, maupun orientasi dan ideologi sosial-politik. Nyatanya, tulisan yang diterbitkan oleh akun agnostik resmi maupun perorangan itu adalah salah satu tulisan yang paling subjektif yang pernah aku baca (selain curhatan anak-anak SMA di laman Facebook), yang mengandung belasan kata sifat yang menunjukan luapan emosi. Setelah aku telusuri, beberapa berita tersebut, ternyata ditulis oleh pihak yang acaranya dibubarkan (pantas saja). Setelah itu, beramai-ramai, mereka—dengan menganggap berita itu sebagai fakta absolut—menghujat dan memberi keputusan final bahwa karena ormas Islam tersebut intoleran, agama Islam pun berarti intoleran. 

Mereka paling suka menggunakan Kecacatan Berlogika atau Logical Fallacies (yang mereka dapat dari Google 5 menit sebelum mereka berteori) sebagai alat berargumentasi yang menunjukan betapa rasionalnya mereka, sebagai antitesis dari kaum beragama yang, menurut mereka, hanya bisa ‘percaya’.

Bukankah itu berarti Ad hominem ya apabila menyerang sebuah narasi besar hanya karena kepribadian atau karakteristik dari beberapa pemeluknya?

Beberapa orang agnostik yang kukenal atau kulihat berkata bahwa mereka tidak tahan melihat para teroris dan para kaum beragama yang berpikiran sangat sempit; yang melihat dunia sebagai suatu dikotomi hitam-putih. 

Namun, topeng, wajah, dan persona mereka yang aku saksikan semakin mengarahkanku untuk berpikir bahwa orang-orang itu sama saja dengan para teroris fundamentalis yang sering melakukan aksi pemboman. Mereka menolak narasi, agenda, kepentingan, dan perspektif orang lain. 

Mereka memilih untuk melihat dunia dengan melalui perspektif yang menurut mereka nyaman, atau mungkin berlindung dibaliknya; dan akhirnya, mereka menjadi orang yang mereka benci.

Aku ingat kata-kata Hermann Hesse yang sering didiskusikan dalam forum Behavior Psychology, bunyinya: 

“If you hate a person, you hate something in him that is part of yourself. What is not part of yourselves does not disturb you”.

Menurutku,  padananya kira-kira: 

Jika Anda membenci seseorang, sebenarnya Anda membenci bagian dari diri Anda yang terefleksi pada orang itu, karena jika tidak, Anda bahkan tak akan merasa terganggu. 

________________________
_____________________
________________________



Tulisan ini pun tidak terbebas dari bias. Aku tidak mencantumkan beberapa sumber yang aku baca karena aku terlalu malas untuk membuka-buka lagi artikel atau buku yang telah kubaca beberapa minggu atau bulan yang lalu. Lagipula, blog ini bukanlah sebuah jurnal ilmiah.

gmt time to est

Labels

Pengikut